​Oleh : Muchammad Faiz Abdillah*

Hujan sore ini, ketika aku duduk di ruang tamu yang ditemani secangkir campur cilik juga kretek ku yang tersisa dua batang. Seketika aku teringat ayat pertama pada surat Al Fatihah dan juga isu keagamaan yang sering muncul saat ini. Bersama kedua teman ku, aku mulai mencoba menggunakan ilmu otak atik yang sering aku gunakan.

Pada bahasa Indonesia, terjemahan dua nama Allah (arrohman dan arrohim) pada ayat pertama surat Al Fatihah mempunyai arti ‘yang maha pengasih dan maha penyayang’ dimana membuat makna keduanya semakin kabur. Inilah yang biasanya sering digunakan ustadz “anyaran” yang sering kita jumpai di televisi.

Menggunakan perspektif ala pesantren mulai aku terjemahkan dua nama lain Allah pada ayat pertama surat Al Fatihah tersebut, mulai aku otak atik relevansi ayat terhadap indahnya bernegara di Indonesia. Dari arrohman yang mempunyai arti moho welas ing donyo lan akhirot (yang maha welas di dunia dan di akhirat) juga arrohim yang mempunyai arti Allah kang moho welas asih ing akhirot beloko (Allah yang maha penyayang di akhirat saja).

Pertama arrohman, yang mempunyai arti moho welas asih donyo lan akhirot yang mana ini saya artikan sebagai salah satu dasar kita ber-Pancasila, khususnya sila pertama tentang kebebasan beragama di Indonesia. Lantas bagaimana bisa hal itu menjadi salah satu landasan kita?

Ya. Bisa sekali. Kita hidup di Indonesia, keanekaragaman adalah suatu keniscayaan. Toleransi adalah hal mutlak yang harus kita junjung bersama. Perbedaan suku, bahasa, agama, adalah keseharian kita. Indonesia bukanlah tempat untuk menghakimi, kau kafir! kau neraka! kau hitam! kau putih! Bukan Sahabat!

Sudah sangat jelas bahwa Allah maha welas dunia dan akhirat pada arrohman. Sudah pasti juga di dunia ini bukan hanya muslim, bukan pula nasrani saja, juga bukan hindu atau budha semua. Meraka semua mendapat welas Gusti Allah dalam perspektif arrohman.

Soal penghakiman adalah urusan arrohim (Allah maha welas akhirot bloko), kita sebagai hamba tidak usah ikut campur sesuatu yang bukan hak kita. Kita sebagai muslim boleh saja berbangga karena insyaAllah mendapat welas-Nya di akhirot (beloko), atau dengan kata lain mendapat dua kawelasan. Kita sebagai muslim wajib percaya atas itu. Toh sudah jelas sekali firman-Nya bahwa agamamu ya agamamu, dan agamaku ya agamaku. Jadikan itu sebagai ideologi ber-Pancasila, sila pertama kita. Murnikan, jangan dicampur adukan dengan dalil-dalil yang kontradiktif. Bukan apa-apa, cuma aku ingin Indonesia indah seperti ini terus.
Pinggirsari, 7 Januari 2017

*Staff Lembaga Kajian Pengurus Cabang IPNU Tulungagungang