Makna maulid Nabi Muhammad SAW menjadi sangat penting diselami agar dalam merayakan hari kelahiran ini tidak hanya sebatas peringatan seremonial, tapi bisa lebih dihayati nilai filosofis substantif nya.

Menurut catatan Sayyid Al Bakri dalam tulisan Muzzaki (2016), pelopor pertama kegiatan maulid adalah Al Mudzhaffar Abu Sa’id, seorang raja di daerah Irbil, Baghdad. Peringatan maulid  pada saat itu dilakukan oleh masyarakat dari berbagai kalangan dengan berkumpul di suatu tempat. Mereka bersama-sama membaca ayat Al Qur’an, membaca sejarah ringkas kehidupan dan perjuangan Rasulullah SAW, melantunkan shalawat dan syair-syair kepada Rasulullah SAW serta diisi pula dengan ceramah agama.

Peringatan tersebut berkembang pesat dan menyebar luas ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Sama seperti awal diadakan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan di Indonesia juga dilakukan dengan berbagai macam kegiatan. Membaca Al Qur’an, mengadakan ceramah agama, membaca shalawat, sampai slametan atau tasyakuran. Semua kegiatan dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhammad SAW mengandung nilai ketaatan pada agama. Malah beberapa kegiatan tersebut sangat dianjurkan di dalam Al Quran dan As Sunnah. Memang benar, kegiatan perayaan maulid ini tidak dilakukan dan dianjurkan oleh Nabi Muhamad dan sahabat. Akan tetapi, nilai yang terkandung dalam kegiatan peringatan ini merupakan anjuran syara’.

Dewasa ini, pelaksanaan kegiatan peringatan maulid di Indonesia ditolak oleh kelompok salafi wahabi dengan dalih kegiatan seperti ini tidak pernah dilakukan dan dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW, sahabat, tabi’in, dan  semua orang yang hidup akhir era generasi salaf. Beberapa kelompok yang menolak kegiatan peringatan, melakukan penolakan secara keras kepada mereka yang melaksanakan kegiatan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW.

Maka dari itu, dengan adanya kegiatan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW saat ini di Indonesia, diharapkan umat islam bisa mengingat kembali betapa hebat perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam mengembangkan ajaran agama islam ditengah budaya jahiliyah. Sehingga bisa menghayati ajaran dan meneladani akhlaq Nabi Muhammad SAW untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. (P/PPers)