Kesuksesan Pilkada salah satu indikatornya adalah dapat diukur dari jumlah DPT (Daftar Pemilih Tetap)  yang menyumbangkan hak suaranya minimal 76 persen dari jumlah keseluruhan. Dari keseluruhan jumlah DPT tersebut 30 persen diantaranya adalah para pelajar. Makanya,  penting bagi pelajar khusunya untuk mulai sadar sejak dini dengan pemilu.  Artinya jangan sampai kita sebagai seorang pelajar yang sudah memiliki hak suara tidak menggunakan hak pilihnya atau GOLPUT.  Karena satu suara tersebut akan sangat berarti untuk menentukan kualitas kepemimpinan dan kemajuan suatu wilayah di masa depan. 

Bicara tentang politik,  sebagai seorang pelajar tentu harus paham hal tersebut.  Namun pemahaman tersebut harus disesuaikan dengan konteks seorang pelajar.  Pelajar harus mampu merespon dan membedakan mana yang di sebut politik dalam tataran edukasi dan mana politik yang dalam tataran praktik yang negatif.  Tentu sebagai seorang pelajar yang kita notabene memiliki kewajiban belajar,  maka tugas utama kita dalam rangka pemilu ini adalah harus menyenyam politik edukasi atau politik teoritik.  

Dengan belajar berpolitik teoritik inilah kita (pelajar) akan mampu membedakan mana pemimpin yang berkualitas dan mana yang tidak. Secara teknik politik teoritik ini mudah untuk kita pelajari,  namun semua tergantung dari kemauan  kita, mau atau tidak?. Salah satu contoh pelajar bisa update terus tentang informasi seputar pemilu lewat dadi segala penjuru media.  Baik cetak maupun elektronik.  Misalkan update tentang informasi tahapan pemilu,  pencalonan bakal calon,  belajar undang-undang,  dan lain sebagainya.  

Sehingga dengan demikian ketika menyalurkan aspirasi yang berupa hak suara, pelajar akan bersikap objektif.  Sikap objektif atau ilmiah inilah yang harus di miliki oleh seorang pelajar tidak terkhusus hanya pada moment pemilu saja.  Namun juga dalam keadaan apapun dan dimana pun. Sehingga dengan demikian khitthah pelajar akan kembali sebagaimana mestinya.

Berbincang menyangkut politik uang sikap seorang pelajar harus tegas yaitu dengan menolak.  Karena tentu hal tersebut akan menodai citra seorang pelajar sebagai kaum yang terdidik.  Baik mereka para pelajar yang menerima sesuatu dari politik uang tersebut ataupun yang jadi pelaku pengedar untuk membeli suara.  Makanya kami dari pelajar NU atau yang biasa disebut dengan IPNU IPPNU dari Pimpinan Cabang Tulungagung tidak bosan-bosannya menghimbau di berbagai kesempatan marilah sebagai seorang pelajar kita kembali lagi ke khitthah sebenarnya yaitu belajar.  Jadi, adanya tahun 2018 sebagai kontestasi politik berupa pemilu Gubernu dan Wakil Gubernur,  Bupati dan Wakil Bupati selain pelajar harus memanfaatkannya dengan baik dan berperan sebagai pelopor menyukseskan sarana kedaulatan rakyat sesuai dengan asas pemilu (Langsung,  Umum,  Bebas,  Rahasia,  Jujur,  dan Adil) atau di singkat Luberjurdil, pelajar harus memanfaatkannya sebagai ajang pembelajaran.

*Disampaikan oleh Rekan Markaban dan Rekan Rudi dari PAC IPNU IPPNU Pakel dalam acara On Air Bareng Perkasa FM,  Kamis (13/01/2018)