Berbicang mengenai pelajar dan pemuda tidak akan pernah ada habisnya, topiknya selalu menarik untuk di diskusikan. Beberapa hari yang lalu saya diskusi tifis-tifis mengenai segmen pelajar dan pemuda. Lalu saya sedikit dipaksa untuk nulis hasil diskusi tifis kami walaupun soal tulis menulis saya belum terlalu mahir. Berbicara pelajar dan pemuda tentunya tak lepas dari organisasi dalam hal ini IPNU IPPNU, yang menjadi sandaran saya beberapa tahun ini. Bagaimana seharusnya IPNU IPPNU berperan ditengah arus deras zaman dan kemiskinan pelajar akan spiritualitas diri. Pelajar hari ini banyak masalah bahkan yang tak seharusnya masalah jadi masalah. Belum masalah yang lebih besar seperti sekulerisme dan komunisme yang mulai berkembang di Indonesia. Adalagi pendapat bahwa prinsip pluralismenya Gus Dur disalahgunakan oleh kaum-kaum liberalis.

Intinya sekarang yang dirusak oleh Amerika adalah pelajar dan pemudanya, mulai RUU pornografi yang ditolak, rencana legalnya miras, dilarangnya pendidikan agama Islam di sekolah dan ini sedang terjadi ulama-ulama yang dipecah belah dan dikata-katain. IPNU IPPNU harus tanggap zaman, banyak yang harus dibaca, karena banyak media sudah tidak netral dan tidak bisa dipercaya. Ingat pesan Hadrotussyaikh Hasyim Asy’ari :

“Didik dan bimbinglah anak muda, karena mereka pewaris masa depan. Dalam sebuah perjuangan, kedudukan kaum muda sangatlah penting. Mereka akan mengarungi hidup di masa yang akan datang, saat mana kita yang tua-tua ini sudah tidak ada”.

Pelajar, pemuda dan khususnya IPNU IPPNU harus jadi lokomotif terdepan dalam perjuangan melawan orang-orang jahat yang bernafsu mengambil alih negara terkaya di dunia ini. Kita harus tanggap dengan lembaga-lembaga bentukan Amerika di Indonesia yang tugasnya lempar-lempar isu dan membuat kerusuhan. Apalagi umat islam sekarang dilempar isu Wahabi dan Syiah yang membuat semakin terpecah belah. Sekarang TPQ, Madrasah Diniyah dan lain-lain mulai sepi peminat karena propaganda Amerika, jadinya PAUD, TK yang materinya mengharuskan anak-anak usia emas yang harusnya belajar Al-Quran, waktunya habis untuk belajar duniawi. Lanjut SD, SMP, SMA semua ikut les a,b,c,d sampai z dan gak ada yang peduli anaknya ngerti Al-Quran atau tidak.

Apalagi media-media dan sarana komunikasi (gadget dan lain-lain membuat anak semakin jauh dari Al-Quran). Kunci dari semuanya itu, pemudanya harus kembali ke Al-Quran, semua harus ngaji dan mencintai Al-Quran karena itu adalah jati dirinya muslim. Kalau muslim sudah jauh dari pedoman hidupnya, mereka akan mudah dipecah belah. Karena mereka gak tahu tuntunan hidup yang sebenarnya sudah ada di Al-Quran. IPNU IPPNU sebagai poros pergerakan pelajar dan pemuda sudah seharusnya tanggap dan bersama-sama mewujudkan islam yang moderat. Salah satu karakter moderasi Islam adalah memastikan visi rahmatan lil ‘alamin tidak berhenti dalam ucapan dan jargon, melainkan tindakan nyata.

Visi rahmatan lil ‘alamin dalam konteks keIndonesiaan, semestinya umat Islam betul-betul menjadi pengawal Pancasila sebagai dasar Negara, Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan Negara, NKRI sebagai bentuk negara, dan UUD 1945 sebagai konstitusi Negara. Kembali kobarkan semangat forum diskusi dimanapun kapanpun dan budayakan debat yang konstruktif (mujadalah bil lati hiya ahsan). Agar lahir pemikiran, ide dan gagasan cemerlang dari IPNU IPPNU menuju Indonesia baldatun thoyibatun wa rabbun ghofur.

Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari generasi penerus bangsa ini IPNU IPPNU turut bertanggungjawab atas pembinaan terhadap pelajar terutama dari kalangan Nahdlatul Ulama sebagai mana visi dari organisasi ini yang tercantum dalam peraturan dasar dan peraturan rumah tangga yaitu “Membentuk karakter pelajar yang berakhlakul karimah, berilmu, serta berwawasan kebangsaan dan bertanggungjawab terhadap tegaknya ajaran Islam Ahlussunnah Waljama’ah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Semoga tanah air tercinta tetap kita rawat dan jaga karena negara ini adalah warisan yang tak ternilai harganya. Salam Belajar Berjuang Bertaqwa. (Kamim Tohari/Koordinator Departemen Kaderisasi PC IPNU Tulungagung)