Perdebatan mengenai kapan selayaknya harlah NU diperingati pernah menjadi isue yang menimbulkan gejolak di tubuh NU sendiri. Hal ini terjadi karena warga nahdliyin mempunyai prespektif yang berbeda terkait isi dari pembukaan Qonun  Asasi Nahdlatul Ulama bahwa NU lahir pada 16 Rojab 1347 H atau bertepatan dengan 31 Januari 1926 H, ada yang merasa benar dengan hijriyah-nya dan ada yang merasa benar dengan masehi-nya. Hal ini menjadi polemik di beberapa tahun terakhir pada era 2000 an.

Dengan adanya gejolak yang semacam ini, PBNU menilai bahwa hal sepele ini akan menjadi celah yang akan dimanfaatkan pihak luar untuk memecah belah umat NU. Kemudian hal ini segera disikapi dengan penegasan di Muktamar NU ke 33 di Jombang kemarin, bahwa peringatan harlah NU dilaksanakan pada penanggalan hijriyah yaitu 16 Rojab. Tetapi apabila ada yang memperingati di penanggalan masehi juga diperkenankan karena hal ini sebagai wujud kecintaan kita dan refleksi atas perjuangan para pendiri dan muasis organisasi Islam terbesar di dunia ini. 

Berangkat dari hal itu, pengurus PC IPNU IPPNU Tulungagung menggelar peringatan harlah NU pada penanggalan masehi dengan harapan yang besar agar ghiroh dan kecemerlangan ulama – ulama pendiri NU menular pada segenap pengurus IPNU IPPNU di Tulungagung. Kegiatan yang dirangkai dengan tahlil qashar dan dilanjutkan dengan diskusi ini diadakan tepat pada 31 Januari 2017.

Hal ini merupakan trobosan baru di PC IPNU IPPNU Tulungagung karena tidak dilakukan di periode – periode sebelumnya. Di tahun – tahun yang lalu para pengurus banom di tingkatan Pimpinan Cabang hanya sebagai partisipan dan ikut sebagai penggembira saat PC NU yang menjadi pelaksana kegiatan peringatan harlah NU. Dengan adanya terobosan baru ini diharapkan mampu memupuk rasa handarbeni dan rasa memiliki pengurus IPNU IPPNU terhadap rumah besarnya, yaitu Nahdlatul Ulama. Setelah melakukan tahlil qashar bersama – sama seusai sholat isyak rangkaian kegiatan dilanjut dengan diskusi, hadir sebagai narasumber Mas Fatah Masrun, M. Si selaku salah satu wakil ketua Tandfidziyah PC NU Tulungagung dan H. Achmad Syafi’i selaku perwakilan dari pembina PC IPNU Tulungagung. 

Diskusi dimulai dengan pemaparan dari Mas Fatah mengenai tonggak awal berdirinya Nahdlatul Ulama sejak era Walisongo. Pria asli Rejotangan yang juga salah satu anggota KPU Tulungagung ini menyebutkan bahwa beliau dan beberapa teman pernah pergi ke Baros, Sulawesi Selatan dan ditempat itu ternyata ada makam waliyullah bernama Syekh Mahmud. Setelah mendapat penjelasan dari juru kunci ternyata waliyullah tersebut hidup pada masa khalifah Ustman Bin Affan RA. Hal ini seakan menjadi temuan baru bahwa ternyata Islam di Indonesia sudah hadir sejak zaman khalifah atau sekitar abad ke 7 M. Para hadirin yang berjumlah sekitar 35 terus menyimak penjelasan dari beliau mengenai sebab lahirnya Nahdlatul Ulama, mulai dari Nahdlatul Wathan, Taswirul Afkar, Nahdlatul Tujar hingga lahirnya Komite Hijaz oleh beberapa tokoh NU, salah satunya adalah KH. Wahab Chasbullah.

Penjelasan kemudian dilanjut dengan peran serta NU dalam mendirikan NKRI hingga aksi – aksi heroik pada peran yang penting saat masa – masa pra kemerdekaan. Dimulai dari terbentuk MIAI yang didalamnya masuk KH. Ahmad Dahlan ( Surabaya ) dan KH. Wahab Chasbullah, peranan penting KH. Wahid Hasyim dalam Piagam Jakarta ( Pancasila ) hingga pencetusan Resolusi Jihad saat Belanda menggandeng sekutu kembali ke Indonesia. 

Hal yang nampak lebih sinkron dengan kondisi NU hari ini dan bagaimana tantangan kita kedepan disampaikan oleh H. Achmad Syafi’i. Pria asli Ponorogo yang akrab disapa Ndan Pi’i memaparkan mengenai propaganda ormas – ormas Islam diluar NU yang hari ini sudah masuk dan mulai mengakar ke masyarakat NU bahkan sampai ke generasi muda NU. Menurut pria yang menjabat sebagai pengurus PW GP Ansor Jawa Timur ini IPNU IPPNU harus mampu mengimbangi dakwah dan perang di media sosial seperti apa yang hari ini dilakukan oleh para cyber Islam garis keras itu, tetapi juga kaderisasi formal juga harus tetap jalan karena itu terkait dengan masalah ideologi. 

Dengan adanya gambaran terkait aspek kesejarahan dari Mas Fatah Masrun dan kondisi serta tantangan NU hari ini diharapkan benar-benar mampu menjadi Refleksi Harlah NU untuk dijadikan formula strategis menjawab tantangan ke depan yang semakin berbau kapitalisme dan liberalisme.

*Abdul Kholiq Fauzi, Pemerhati Kaderisasi IPNU IPPNU