Kali ini saya mencoba mengulas salah satu madzab Islam yang besar yakni Syiah ditinjau dari perspektif sejarah dan doktrin teologisnya. Bukan tanpa alasan saya berhasrat untuk membahas tentang Syiah karena akhir-akhir ini banyak sekali yang melabeli aliran Syiah dengan segala hal yang berbau kontroversi, sesat, kafir dan lain-lain. Disini saya mencoba untuk membuka pemikiran baru terkait dengan penilaian terhadap Syiah yang cenderung dipandang negatif oleh orang awam bahkan mahasiswa sekalipun. Dalam kebanyakan hal kita kurang berani keluar dari zona nyaman yakni sebatas penerimaan bahwa Syiah itu memang aliran yang sesat dan kafir. Oleh sebab itu marilah kita membuka cakrawala berpikir kita untuk mengulas apa benar tuduhan yang selama ini ditujukan terhadap Syiah itu benar apa adanya atau hanya cara untuk mengaburkan salah satu sejarah besar Islam saja.

Kita mulai dari sejarah Syiah, bagaimana awal mula Syiah itu  muncul dan apa yang melatarbelakangi kemunculannya. Setidaknya ada tiga versi dalam kemunculan Syiah, yang pertama pada masa Rasulullah Saw, yang kedua setelah Rasulullah wafat dan yang terakhir Syiah muncul pasca terjadinya perang Shiffin. Syiah pertama muncul ditengarai sebagai golongan yang memberikan dukungan terhadap ahlul bait sejak masa hidup Rasulullah, mereka menjadi golongan yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menjaga ahlul bait Rasulullah.

Versi kedua Syiah muncul sejak wafatnya Rasulullah Saw dimana umat Islam mengalami kesedihan dan kebingunan yang mendalam. Disisi lain terjadi kehebohan dari sekelompok golongan yang menginginkan segera ada pengganti Rasulullah sebagai khalifah umat Islam. Singkatnya Umar bin Khatab mengajuakn nama Abu Bakar sebagai kandidat utama dan usul Umar ini didukung oleh beberapa sahabat lainnya. Sedangkan para pendukung ahlul bait dibuat gelisah oleh usulan Umar tersebut. Mereka marah tidak terima pembaiatan untuk Abu Bakar dan memilih Ali yang jelas sebagai ahlul bait. Walaupun Ali yang hadir juga menerima pembaiatan Abu Bakar, tapi para pendukung Ali tetap tidak terima dan disinilah awal perpecahan antar umat Islam. Pendukung ahlul bait tetap meyakini yang pantas menggantikan posisi Rasulullah sebagai khalifah adalah Ali karena sebagai ahlul bait.

Versi ketiga Syiah disinyalir terbentuk di akhir pemerintahan khalifah Utsman bin Affan dan resmi menamakan golongannya Syiah saat perang shiffin. Pasca wafatnya khalifah Utsman maka Ali menjadi khalifah ke empat umat Islam pada masa itu, namun hal ini kembali memicu konflik dari lawan politiknya yakni Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Konflik antara bani umayyah dibawah pimpinan Mu’awiyah berujung pada perang shiffin. Dalam peperangan ini diajukan untuk melakukan perjanjian damai yang dikenal dengan arbitrase yang diusulkan Mu’awiyah, kemudian Ali menerimanya dan ini kembali menuai konflik dari pendukung Ali sehingga kembali memunculkan perpecahan dari pendukung Ali. Golongan pertama tetap mendukung Ali sebagai khalifah yang dikenal dengan nama Syiah dan golongan kedua dikenal dengan nama khawarij.

Setelah menelaah proses munculnya Syiah, penulis berpendapat bahwa kemunculan Syiah berbau faktor politik bukan perpecahan akidah. Pendapat penulis ini dikuatkan oleh Mamduh Farhan al-Buhairi dalam bukunya “Gen Syi’i” yang diterjemahkan oleh Agus Hasan Bashori, beliau mengatakan bahwa sesungguhnya pada awal munculnya tasyasysyu’ (Syiah pada Ali) hanyalah gerakan politik yang tidak terkait sedikitpun dengan madzab, agama dan akidah.

Dari perspektif doktrin teologisnya Syiah hampir sama dengan madzab Islam lainnya akan tetapi kita sering mendengar Syiah adalah madzab yang menyimpang, sesat dan lain-ain. Karena mereka yang menjustifikasi demikian hanya memandang dari satu sudut yakni pada kecintaan kaum Syiah terhadap Ali dan para ahlul baitnya yang mendalam. Saya kurang sependapat dengan ungkapan yang demikian dan saya berkeyakinan ada hal positif yang disumbangkan Syiah untuk peradaban Islam.

Segi akidah, Syiah meyakini Allah SWT adalah pencipta alam semesta, Maha Esa, Maha Agung dan lain-lain. Dari analisis saya, jika iman kepada Allah adalah pondasi dasar dalam keIslaman seseorang, maka Syiah termasuk golongan yang memiliki pondasi dasar yang sama dengan madzhab besar Islam lainnya. Ada ciri khas yang muncul dari Syiah terkait pandangannya terhadap tauhid. Ada beberapa derajat tauhid menurut Syiah diantaranya, tauhid dzat, tauhid sifat dan tauhid af’al (ibadah).

Pertama, Tauhid dzat, artinya meyakini bahwa Allah adalah dzat yang Esa. Tak ada yang serupa dengan-Nya dan tak ada yang menandingi-Nya. Kedua, Tauhid sifat yakni membahas tentang keesaan sifat Allah. Tauhid sifat ini ada untuk menegaskan bahwa sifat-sifat Allah adalah esensi dari dzat Allah sendiri. Ketiga, Tauhid af’al (ibadah) bahwa keesaan dalam ibadah merupakan prinsip yang lazimnya dianut semua agama yang diturunkan Allah. Seharusnya setiap ibadah seorang muslim berdasar kepada penghambaannya pada Allah dan tidak untuk kepentingan lainnya.

Segi Nubuwah yang berarti kenabian, Syiah juga memiliki pandangan terhadap hal ini. Hampir sama dengan madzhab besar lainnya, Syiah berpendapat bahwa Nabi terlebih Rasul adalah seorang yang diutus Allah untuk membimbing umat manusia dan menyampaikan wahyu. Syiah juga meyakini adanya ulul azmi dan Nabi Muhammad merupakan Nabi terakhir utusan Allah. Disini sempat timbul kontroversi bagi keberadaan Syiah. Ada salah satu sekte Syiah yang mengkultuskan Imam Ali secara berlebih bahkan menganggapnya sebagai Nabi setelah Muhammad, maka golongan ini dianggap sesat.

Segi Imamah, mungkin inilah cara pandang yang paling terkenal dari Syiah. Imamah berasal dari kata Imam yang berarti pemimpin. Imamah adalah konsep tentang pola pemimpin atau yang disebut imam dalam madzhab Syiah. Sudah kita ketahui sebelumnya semenjak Rasulullah wafat umat Islam mengalami kesedihan mendalam dan ketegangan. Yakni terkait siapa penerus Rasulullah yang akan mengemban misi Islam yang dibawa Rasulullah. Kemudian muncul banyak perbedaan kriteria pemimpin umat yang kemudian melahirkan imamah pada Syiah.

Dalam Syiah Imamah diyakini bukan sekedar jabatan politik tetapi sekaligus jabatan spiritual yang sangat tinggi. Karena dirasa tugas dan tanggungjawab imam sangat berat dan mulia maka Syiah meyakini bahwa garis Imamah sesudah Rasulullah dilanjutkan oleh orang-orang suci dari dzurriatnya yaitu Imam Ali. Konsep Imamah Syiah inilah yang menurut penulis dijadikan celah bagi kelompok lain untuk menyerang kelemahannya. Pasalnya Syiah tidak mau mengakui khalifah sebelum Ali dan mengatakan bahwa ketiga khalifah sebelumnya telah merampas hak atas Ali, padahal Sayyidina Ali sendiri melakukan pembaiatan secara resmi terhadap khalifah-khalifah tersebut.

Segi Ma’ad (akhirat), konsep kehidupan di akhirat Syiah tidak jauh berbeda dengan madzhab Sunni. Syiah meyakini kebangkitan setelah kematian itu ada yang didasarkan pada QS. An-Nisa ayat 87. Syiah juga meyakini adanya balasan surga dan neraka. Dan terakhir segi Taqiyah, sebagai madzhab Syiah selalu membuka pintu ijtihad bagi Imam dan ulamanya. Taqiyah memiliki arti menyembunyikan keimanannya, menurut Syiah tidak berdasar Al-Qur’an saja taqiyah dibenarkan, namun nalar dan kearifan manusia juga menyatakan keharusan dan kepantasannya dalam situasi sensitif tertentu. Anggapan yang mengatakan Syiah membolehkan taqiyah tanpa batasan juga kurang benar, karena Syiah tetap memberikan batasan dalam pelaksanaan taqiyah hal tersebut boleh dilakukan jika benar-benar berada pada kondisi darurat, misalnya jika ia jujur maka ia akan terbunuh. Syiah menegaskan bahwa taqiyah adalah urusan masung-masing individu mereka akan mempertanggungjawabkan akidah dan keimanannya masing-masing.

Dari penjelasan diatas bisa saya simpulkan bahwa Syiah awalnya muncul sebagai gerakan politik. Akan tetapi karena sejarah kelam Islam masa lalu Syiah berubah arah menjadi gerakan politik dan madzhab Islam. Doktrin teologis Syiah kebanyakan dipandang kontroversi dan cenderung sesat. Menurut telaah saya, doktrin teologis Syiah memiliki banyak kesamaan dengan madzhab besar Islam lainnya. Masalah paling mendasar yaitu keimanan. Syiah mempunyai pandangan keimanan yang diakui secara umum dan memiliki dalil yang jelas di setiap penetapannya. Dan masih ada beberapa perbedaan yang memang menjadi ciri khas Syiah, namun hal tersebut tak cukup kuat untuk menghukumi Syiah sebagai gologan yang kafir, sesat dan lain-lain.

Bagaimanapun juga Syiah merupakan bagian dari sejarah Islam yang patut kita pelajari dan kaji. Setiap hal selalu mempunyai dua sisi yaitu positif dan negatif tinggal bagaimana kita sebagai kaum terpelajar mampu menelaahnya. Sehingga apa yang menjadi poin positif tersebut bisa kita manfaatkan dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari serta menghindari poin negatif yang ada. (Kamim Tohari/Koordinator Departemen Kaderisasi PC IPNU Tulungagung)