KH. M. Hasyim Asy’ari

Bulan Februari menjadi salah satu bulan yang istimewa dikalangan Nahdiyin (sebutan bagi warga Nahdatul Ulama). Tepatnya pada tanggal 14 Februari 1871 Masehi atau 24 Dzulqa’dah 1287 Hijriah di Gedang, Jombang, Jawa Timur KH. M. Hasyim Asy’ari dilahirkan. Tanggal kelahiran KH. M. Hasyim Asy’ari ini sama dengan hari Valentine yang biasanya juga dirayakan oleh sebagian orang. Valentine oleh kebanyakan orang dimaknai sebagai hari kasih sayang, tanpa bermaksud mengaitkan antara keduanya tapi saya memiliki pemikiran lain. Saya, berpikiran bahwa betul jika Februari itu bulan kasih sayang karena pada bulan ini pula sang penebar cinta dilahirkan. Bagi saya KH. M. Hasyim Asy’ari adalah kiai yang menancapkan cinta pada sesama manusia, cinta ilmu dan cinta pada tanah air.

Saya berharap untuk para pelajar, anak-anak dan generasi muda Nahdlatul Ulama ingat bahwa 14 Februari adalah kelahiran sang pendiri Nahdlatul Ulama bukan perkara Valentine saja. Oleh sebab itu mereka (pelajar, anak-anak dan generasi muda Nahdlatul Ulama) harus banyak membaca entah apapun bentuknya yang mengupas seorang tokoh pendiri Nahdlatul Ulama tersebut. Agar tahu tentang capaian-capaian, pemikiran, kontribusi, karya dan lain sebagainya dari sang kiai. Hal tersebut untuk memotivasi agar bisa melanjutkan jalan perjuangan beliau dan untuk meningkatkan kualitas diri ke arah perubahan yang lebih baik.

Perjuangan

Berbicara perjuangan KH. M. Hasyim Asy’ari tentunya tidak ada habisnya. Telah banyak buku, penelitian, serta tulisan-tulisan yang membahas tentang perjuangan KH. M. Hasyim Asy’ari baik untuk moderasi Islam maupun perjuangannya untuk bangsa Indonesia. Menurut saya, pemikiran KH. M. Hasyim Asy’ari memiliki pengaruh begitu besar bagi pesantrennya (Tebu Ireng), Nahdlatul Ulama dan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, Zamakhsyari Dhofier yang merupakan seorang intelektual mengatakan KH. M. Hasyim Asy’ari sebagai “Kiai paling besar dan terkenal di seluruh Indonesia selama paruh pertama abad ke 20.” Salah satu perjuangan KH. M. Hasyim Asy’ari adalah mampu ––mengakumulasikan–– ide besar, bertemunya dua nilai besar yakni nilai keagamaan dan nilai kebangsaan.

Menurut saya, dari sekian banyak perjuangan KH. M. Hasyim Asy’ari ada tiga hal yang menarik. Pertama, KH. M. Hasyim Asy’ari yang memberikan restu kepada putranya KH. A. Wahid Hasyim untuk menghapus tujuh kata di sila pertama pada piagam Jakarta setelah melalui istikharah batiniyah. Istikharah batiniyahyang dilakukan KH. M. Hasyim Asy’ari berupa tirakat puasa selama tiga hari, selama tiga hari pula mengkatamkan al-Qur’an, membaca surat al-Fatihah ketika ayat “iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin” diulang 350.000 kali, kemudian salat hajat dua rakaat, rakaat pertama membaca surat at-Taubah 41 kali, rakaat kedua membaca surat al-Kahfi 41 kali, lalu sebelum tidur membaca ayat terakhir surat al-Kahfi 11 kali. Penghapusan tujuh kata tersebut sangat penting mengingat rakyat Indonesia bagian timur mengancam untuk memisahkan diri dari Indonesia apabila bunyi sila pertama tetap sesuai piagam Jakarta. Akhirnya disepakatilah penghapusan tersebut dan sila pertama menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang bisa mengakomodir semua golongan. Istikharah tersebut berangkat dari tradisi dan keilmuan pesantren, sehingga bisa dikatakan Pancasila ialah kristalisasi ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Kedua, KH. M. Hasyim Asy’ari dan para kiai dimintai untuk istikharahdalam menentukan hari dan tanggal yang baik untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Kemudian setelah melakukan istikharah,dipilihlah hari Jumat (sayyidul ayyam) tanggal 9 Ramadhan (sayyidus syuhur) 1364 Hijriah bertepatan dengan 17 Agustus 1945. Penjelasannya, angka 9 adalah simbol numerik tertinggi, sementara hari Jumat ialah penghulu atau rajanya hari dalam sepekan dan bulan Ramadhan adalah rajanya bulan dalam setahun.

Ketiga, KH. M. Hasyim Asy’ari yang memberikan fatwa untuk berjihad dalam rangka mempertahankan kemerdekaan. Fatwa tersebut dikenal dengan ––Resolusi Jihad 22 Oktober 1945–– yang juga sebagai embrio perang 10 November 1945 dan akhirnya diperingati sebagai hari pahlawan. Kemudian pada tahun 2015, 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional sebagai wujud apresiasi atas perjuangan para kiai, ulama dan santri dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Tradisi Literasi

Dunia literasi memang tidak asing lagi bagi kalangan nahdiyin. Bahkan sebelum Nahdlatul Ulama resmi berdiri tahun 1926 silam, banyak dari para ulama di Nahdlatul Ulama memiliki tradisi literasi yang amat panjang. Jadi, tidak heran kalau banyak lahir para intelektualis-intelektualis Nahdlatul Ulama di setiap masanya. Kalau boleh saya mengatakan, “Para ulama Nahdlatul Ulama itu memiliki tradisi kepenulisan yang amat kuat.” Hal ini bisa dibuktikan dari banyaknya karya berupa kitab kuning, sastra (singiran), buku dan lain-lain.

Salah satu tokoh Nahdlatul Ulama yang produktif menghasilkan karya tulisan ialah KH. M. Hasyim Asy’ari, walaupun sebenarnya masih banyak lagi tokoh Nahdlatul Ulama yang menghasilkan karya tulis berdasarkan bidang keilmuannya masing-masing. KH. M. Hasyim Asy’ari dikenal pandai berbicara baik saat ngaji kitab, di mushola, di mimbar-mimbar, pengajian umum namun yang menarik selain kemampuan berbicara yang baik beliau juga memiliki tradisi literasi yang kuat. Hal ini tidak terlepas dari peran dan polesan para guru beliau yang juga pengarang kitab-kitab luar biasa baik para guru semasa belajar di tanah air maupun di Makkah.

Tulisan beliau amat beragam dalam disiplin ilmu keislaman. Tulisan tersebut baik dalam bidang akidah, bidang akhlak, bidang tasawuf, hingga fikih yang beliau tulis dengan serius. Dari kitab-kitab hasil tulisan KH. M. Hasyim Asy’ari yang paling terkenal dan menjadi bahan ajaran wajib di berbagai pesantren ialah Adabul ‘Alim Wal Muta’allim dan Risalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Adabul ‘Alim Wal Muta’allim adalah sebuah kitab yang mengupas tentang pentingnya menuntut dan menghormati ilmu serta guru. Dalam kitab ini KH. M. Hasyim Asy’ari menjelaskan tentang cara agar ilmu itu mudah dan cepat dipahami dengan baik. Kitab yang terdiri dari beberapa bab ini, memberikan pula pencerahan agar ilmu benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Kemudian Risalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah merupakan pedoman bagi warga Nahdlatul Ulama dalam mempelajari tentang apa yang disebut ahlus sunnah wal jama’ah atau sering disingkat dengan aswaja. Dalam kitab ini, KH. M. Hasyim Asy’ari juga mengulas tentang beberapa persoalan yang berkembang di masyarakat semisal, apa yang disebut dengan bid’ah dan sebagainya. Menerangkan pula tentang tanda-tanda kiamat yang terjadi pada masa sekarang ini.

Selain menulis kitab klasik beliau juga menuliskan buah pemikirannya, ilmunya dan pendapatnya melalui media cetak pada masa itu. Beberapa media cetak yang memuat tulisan beliau antara lain, Soeara Moeslimin Indonesia (majalah milik Masyumi), Berita NO, Soeloeh NO, Soeara NO, dan sebagainya. KH. M. Hasyim Asy’ari menulis tidak sebatas bidang ilmu keagamaan, tapi juga meliputi pertanahan, pertanian, politik internasional, kolonialisme, dan masih banyak lagi.

Kita bisa mengambil pelajaran yang berharga dari semangat perjuangan dan tradisi literasi KH. M. Hasyim Asy’ari, bahwa keterbatasan fasilitas, masih dalam masa penjajahan, keterbatasan waktu tapi tak menyurutkannya untuk tetap produktif berkarya. Saya sedikit berandai bilamana seorang KH. M. Hasyim Asy’ari hidup di masa media sosial saat ini, saya yakin media sosial, website, blog, face book, dan lainya akan berisi tulisan-tulisan yang bermanfaat.

Semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi kado untuk KH. M. Hasyim Asy’ari di hari ulang tahunnya. Semoga segala bentuk perjuangan dan pengorbanan kita dalam meneruskan perjuangan KH. M. Hasyim Asy’ari mendapatkan ridho-Nya. Saya menyimpan impian dan harapan untuk para generasi muda Nahdlatul Ulama untuk memiliki tradisi literasi yang kuat seperti KH. M. Hasyim Asy’ari. Jangan sampai kita membangga-banggakan para pendahulu tapi kita tak pernah memiliki kesadaran untuk mengikuti jejak beliau dan tidak mau mengupgrade diri sendiri.

Terakhir saya ingin menyampaikan sedikit pesan bahwa mencatat atau menulis itu sangatlah penting. Karena orang menghafal itu mudah lupa dan yang menulis itu akan abadi. Belum ditemukan metodologi yang tepat (yang baik) selain mencatat bagi seorang yang sedang mencari ilmu atau pendek katanya, “Ikatlah ilmu dengan menulis.” Oleh karenanya orang yang berilmu sudah pasti memiliki tulisan. Karena bagi saya menulis ialah cara paling efektif menyampaikan pesan tanpa kesan menggurui.

Ditulis oleh Kamim Tohari