Oleh : Kamim Tohari

Pada tahun 1820 seorang kiai dan pejuang itu dilahirkan di tengah gejolak situasi masa penjajahan Belanda. Dilahirkan di desa Kedung Cempleng, kecamatan Mayong, kabupaten Jepara. KH. Sholeh Darat nama lengkapnya adalah KH. Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani. KH. Muhammad Sholeh al-Samarani atau biasa disebut Mbah Sholeh Darat adalah seorang ulama besar Nusantara yang hidup pada sekitar abad ke-19. Beliau menjadi guru dari ulama-ulama hingga tokoh besar di Jawa.[1] Konon tahun kelahirannya ini sama dengan tahun kelahiran ulama kharismatik lainnya yakni KH. Muhammad Kholil Bangkalan Madura yang akhirnya kelak juga menjadi sahabat dalam menuntut ilmu di tanah suci.

Ayahnya adalah Kyai Umar yang merupakan salah seorang tokoh ulama dan pejuang dan orang kepercayaan Pangeran Diponegoro di wilayah pesisir utara pulau Jawa. Selain Kyai ‘Umar ada Kyai Syada’ dan Kyai Murtadla Semarang yang merupakan orang-orang kepercayaan pangeran Diponegoro waktu itu.[2] KH. Sholeh Darat dibesarkan oleh orang tuanya dan dalam keluarga yang memiliki tradisi yang kuat dalam pendidikan agama. Pendidikan agama yang didapat sejak kecil ini telah membentuk pribadi dan karakter berlandaskan nilai-nilai keagamaan yang kuat.

Nama KH. Sholeh Darat tidak asing lagi ditelinga para Nahdiyin. Beliau tidak akan pernah terlepas dari jaringan panjang dengan para ulama nusantara lainnya. Selain sebagai kiai beliau juga seorang guru, pejuang dan penulis. Banyak hal yang saya kagumi dari sosok beliau. Selain beliau terkenal alim, dari hasil tangan dinginnya pula lahir ulama-ulama nusantara yang juga intelektualis. Sebut saja, ––KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, KH. M. Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama–– dan tentunya para ulama besar lainnya. Yang menarik selain menjadi guru para ulama nusantara, KH. Sholeh Darat juga menjadi guru dari tokoh emansipasi wanita yakni RA. Kartini.

Ketertarikan saya dengan KH. Sholeh Darat karena kegigihannya dalam menuntut ilmu. Jejak intelektualitas KH. Sholeh Darat dimulai belajar dari ayahnya sendiri kemudian dari satu guru ke guru lain, pesantren ke pesantren hingga akhirnya beliau belajar di tanah suci. Beliau lahir dan hidup pada masa kolonialisme Belanda. Pada masa Belanda inilah pendidikan sangat dibatasi dengan aturan-aturan yang dibuat-buat. Apalagi masalah pedidikan keagamaan, jelas Belanda sangat ketat dalam hal ini. Dalam masa serba sulit inilah KH. Sholeh Darat tetap semangat dan tidak putus asa dalam menuntut ilmu.

Singkat cerita, setelah KH. Sholeh Darat memiliki pemahaman ilmu agama yang tinggi, beliau menjadi ulama yang namanya masyhur dan diakui oleh para penguasa tanah suci. Kemudian beliau dibawa pulang oleh KH. Giri Kusumo untuk mengajarkan ilmunya di tanah kelahirannya.

Tidak semudah yang dibayangkan, perjuangan KH. Sholeh Darat dalam menyampaikan ilmu amat banyak tantangan dan cobaan. Kondisi sosial-masyarakat pada saat itu memaksa KH. Sholeh Darat untuk melakukan kreativitas dakwah sehingga dakwahnya bisa diterima oleh semua kalangan, ––terkhusus orang awam–– semua menerimanya dengan baik. Inilah bukti kecerdasan KH. Sholeh Darat mampu berdakwah dengan lembut, santun dan sesuai kondisi masyarakatnya.

Ajaran ilmu keagamaan yang disampaikan pada muridnya pada umumnya sama. KH. Sholeh Darat memang sangat konsen dengan dunia pendidikan. Bagi saya, yang menarik dalam cara dakwah atau ajaran beliau ialah sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonial Belanda pada masa itu. Jika perjuangan melawan penjajah identik dengan mengangkat senjata, tidak dengan KH. Sholeh Darat. Beliau memilih jalur yang berbeda. Jalur yang ditempuh ialah melalui jalur kultural dan struktural. Inilah yang pada akhirnya juga menginspirasi para murid beliau dalam berjuang melawan penindasan penjajah.

Lewat jalur kultural yakni pendidikan, beliau memberikan semacam ––doktrin–– bahwa kemerdekaan akan bisa dicapai dengan mencerdaskan bangsa Indonesia itu sendiri. Menurut saya, kisah yang sudah banyak diperbincangkan adalah pertemuan KH. Sholeh Darat dengan RA. Kartini. Bagi RA. Kartini, KH. Sholeh Darat adalah sosok guru yang mampu menghantarkan pemahaman esensi Islam yang mudah dipahami. Manakala RA. Kartini mengaji tafsir Faidlur Al-Rahman fi tarjamah Tafsir Kalam al-Malik al-Dayyan yang merupakan penafsiran dan penerjemahan Al-Qur’an oleh KH. Sholeh Darat. Kitab ini ditulis atas permintaan khusus RA. Kartini agar mampu memahami esensi Islam melalui Al-Qur’an.

Berkat bimbingan gurunya nilah RA. Kartini tercerahkan. Hingga akhirnya menulis kumpulan surat berisi segala kegelisahannya terhadap pejajahan, kesetaraan hak wanita, perlawanan terhadap kebodohan dan sebagainya. Yang akhirnya kumpulan surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan dengan judul Door Duisternis tot Licht–– secara harfiah Dari Kegelapan Menuju Cahaya–– yang terinspirasi selama mengaji tafsir Faidlur Al-Rahman fi tarjamah Tafsir Kalam al-Malik al-Dayyan kepada KH. Sholeh Darat.

Ketika menulis tafsir Faidlur Al-Rahman fi tarjamah Tafsir Kalam al-Malik al-Dayyan, KH. Sholeh Darat menggunakan aksara Arab pegon berbahasa Jawa. Buka tanpa alasan KH. Sholeh Darat menuliskannya dengan aksara Arab pegon berbahasa Jawa. Jika sebelumnya memakai bahasa Arab akan kesulitan jika dipelajari maupun dipahami oleh orang Jawa atau awam umumnya. Selain itu, aksara Arab pegon berbahasa Jawa juga digunakan sebagai alat perlawanan terhadap penjajah. Menurut saya, ini bentuk kecerdasan KH. Sholeh Darat dalam membaca situasi dan kondisi pada masa kolonialisme. Berkat tulisan-tulisan beliau dengan aksara Arab pegon berbahasa Jawa yang berisikan syair, mengajak para muridnya untuk melawan penjajah dan menumbuhkan cinta tanah air. Ini merupakan sebuah embrio awal perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh RA. Kartini adalah contoh nyatanya.

Sedangkan dari jalur struktural yakni gerakan ideologis, beliau mencetak ulama besar lainnya yakni KH. Hasyim Asy’ari. KH. Hasyim Asy’ari tercatat sebagai salah seorang murid KH. Sholeh Darat yang memiliki peranan besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Saya meyakini berkat didikan agama serta penanaman jiwa nasionalisme yang kuat dari gurunya inilah yang mempengaruhi garis perjuangan seorang KH. Hasyim Asy’ari.

Karena sejak awal KH. Sholeh Darat memiliki pemikiran anti kolonialisme. Pemikiran gurunya inilah yang ditransmisikan kepada murid-muridnya, hingga pada akhirnya menumbuhkan semangat jiwa nasionalisme. Salah satunya adalah KH. Hasyim Asy’ari yang tampil terdepan menggelorakan semangat cinta tanah air kepada para santrinya dan umat muslim umumnya. Hal ini dibuktikan melalui fatwa bertuliskan ––resolusi jihad–– yang isinya seruan sebagai bentuk perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Selain itu, strategi penulisan aksara Arab pegon ini diteruskan oleh KH. Hasyim Asy’ari. Beliau juga mewarisi dan melanjutkan tradisi literasi dikalangan ulama nusantara. KH. Hasyim Asy’ari banyak menyumbangkan karya tulis sebagai bentuk pengembangan literasi pendidikan Islam. Banyak kitab hasil tulisan KH. Hasyim Asy’ari, yang paling dikenal ialah Risalah Ahlis Sunnah Wal Jamaah dan Adab al-Alim Wal Muta’alim. Produktivitas karya tulis KH. Hasyim Asy’ari tidak terlepas dari peran serta pengaruh gurunya yakni KH. Sholeh Darat. Berkat kepiawaiannya ini, KH. Sholeh Darat mampu mendakwahkan Islam dengan bahasa yang akomodatif dan persuasif. Sehingga Islam mampu diterima dengan baik dan berkembang cukup pesat pada masa itu.

Inilah titik kekaguman saya pada sosok KH. Sholeh Darat. Selain beliau menjadi guru para ulama dan tokoh nasional. Beliau selalu menanamkan jiwa nasionalisme dan anti terhadap kolonialisme. Beliau juga sosok yang amat produktif menghasilkan karya tulis berupa kitab. Dari sisi produktivitasnya Mbah Sholeh Darat telah menulis lebih dari 14 karya selama masa hidupnya.[3] Bagi saya beliau bukan penulis belaka, melainkan ––beliau juga inspirator literasi–– yang mampu menginspirasi dan mempengaruhi intelektualitas para murid-muridnya. Terbukti para muridnya juga memiliki budaya literasi yang sangat kokoh. Dan tentunya produktivitas menulis yang luar biasa.

Jejak-jejak kontribusi KH. Sholeh Darat terhadap pendidikan Islam, budaya literasi dan bangsa Indonesia sudah seharusnya menjadi inspirasi bagi kita. Betapa hebat perjuangan pendahulu kita. Sudah seharusnya kita melestarikan pemikiran beliau dan meniru semangatnya dalam berliterasi. Hal ini dilakukan dalam rangka merevitalisasi pemikiran KH. Muhammad Sholeh al-Samarani, karena pemikiran-pemikirannya sangat relevan diaktualisasikan dan dikontekstualisasikan di tengah menjamurnya isu-isu sosial-keagamaan.[4] Dengan segala kapasitas keilmuan, pemikiran, jasa perjuangan melawan kolonialisme, dan melahirkan murid-murid yang religius-nasionalis dan nasionalis-religius sudah sepantasnya KH. Sholeh Darat menjadi pahlawan nasional.


[1] Lihat Said Aqil Siraj, “Kata Pengantar” dalam Syarah Hikam: KH. Sholeh Darat, Maha Guru Ulama Besar Nusantara, terj. Miftahul Ulum, (Depok: Sahifa, 2016), xxxv-xxxvi

[2] Aziz Masyhuri, 99 Kyai Kharismatik Indonesia, (Yogyakarta: Kutub, 2008), 66

[3] Munawir Aziz, “Produksi Wacana Syiar Islam dalam Kitab Pegon Kyai Sholeh Darat Semarang dan Kyai Bisri Musthafa Rembang”, dalam Jurnal Afkaruna, Vol. 9, No. 2, Juli 2013, 117-118

[4] Taufiq Hakim, Kiai Sholeh Darat dan Dinamika Politik di Nusantara Abad XIX-XX, (Yogyakarta: INDeS, 2016), 207